Take Over KPR Rumah, Pahami Dulu Hal Ini!

05

Des

Take Over KPR Rumah, Pahami Dulu Hal Ini!

Take Over KPR Rumah

Harga rumah yang semakin tinggi membuat banyak orang memilih mengambil KPR untuk bisa wujudkan rumah imajinasimu. Hanya saja, seringkali dalam mengambil KPR, nasabah juga tidak mempertimbangkan kemampuan mereka. Akibatnya, risiko kredit macet dihadapi dan harus take over KPR. Sebenarnya, apa itu take over KPR?

Apa Itu?

Bagi Anda yang belum tahu apa yang dimaksud dengan take over KPR, sebenarnya ini adalah sebuah tindakan pengalihan KPR properti kepada pihak lain yang dilakukan secara sah dan dilandaskan pada sebuah perjanjian yang berlaku di bawah aturan hukum. Dengan kata lain, ada pemindahan kredit dari pembeli pertama ke orang lain.

Dalam transaksi ini, pihak kedua akan membayar sejumlah uang untuk mengganti kredit yang sudah berjalan dengan besaran yang sudah ditentukan dan berdasarkan kesepakatan. Nantinya, pihak kedua memiliki hak dan kewajiban atas kelanjutan dari kredit rumah KPR tersebut.

Ada cukup banyak alasan mengapa nasabah melakukan take over kredit. Beberapa di antaranya adalah karena suku bunga yang semakin besar sehingga tak bisa lagi membayar cicilan KPR, bisa juga karena ingin mengambil rumah yang lebih besar atau karena kebutuhan keuangan yang mendesak.

Jenis Take Over KPR

  1. Melalui Bank

Dalam praktiknya, KPR ini dibagi menjadi dua jenis. Salah satunya adalah take over melalui pihak bank. Dalam hal ini, pihak pertama adalah si penjual dan pihak kedua adalah pembeli yang melakukan permohonan alih kredit di bagian customer service dengan pemenuhan persyaratan sebelumnya.

Nantinya, bank akan meneliti dan memberikan persetujuan dan pihak pembeli akan menjadi debitur baru. Tentunya, akan ada penandatangan perjanjian baru. Saat sudah penandatanganan perjanjian, maka ia sudah menjadi pihak kedua dalam perjanjian ini dan mana sertifikat rumah juga sudah bisa balik nama atas debitur baru.

Tentunya, ada risiko yang harus Anda hadapi bila melakukan take over ini. Salah satunya adalah proses ini memakan waktu yang cukup lama karena ada analisis kredit yang dilakukan untuk mengetahui kelayakan debitur baru. Risiko paling besar dari hal ini adalah menyatakan bahwa pihak kedua tak layak mengambil alih kredit sehingga take over KPR ditolak.

Oleh sebab itu, untuk melakukan proses ini, pihak pembeli wajib memenuhi syarat untuk menjadi debitur dan memiliki kredit histori yang baik. Tak hanya itu saja, prosesnya juga jauh lebih rumit bila dibandingkan dengan jenis take over yang satunya. Bahkan, bila dibandingkan dengan proses pembelian rumah baru, juga lebih rumit.

Satu lagi, biaya yang akan dikenakan juga cukup besar. Memang, ketentuan untuk setiap bank berbeda. Begitu juga dengan prosedurnya. Semua itu harus dipenuhi agar pengambilalihan kredit bisa dikabulkan. Meski demikian, dibandingkan yang lain, proses dengan melibatkan bank adalah yang paling dianjurkan karena lebih minim risiko.

  1. Take Over dengan Notaris

Jenis kedua adalah take over dengan bantuan notaris. Sesuai namanya, pengalihan ini dilakukan dengan perantara notaris untuk wujudkan desain rumah yg bikin relax. Dengan cara ini, maka akta notarislah yang akan dijadikan sebagai jaminan. Pada proses ini, kedua belah pihak harus mendatangi notaris dengan membawa berkas lengkap.

Berkas tersebut ditujukan untuk mendapatkan akta jual beli untuk alih hak tanah dan bangunan. Nantinya, notaris akan memberikan surat kuasa pada kedua pihak untuk melakukan pelunasan sisa cicilan dan melakukan pengambilan sertifikat. Bila dibandingkan dengan take over bank, proses ini memang lebih cepat.

Namun, walaupun cara ini terbilang aman, tetap saja ada risiko yang harus Anda terima. Salah satunya risiko yang harus ditanggung pembeli adalah ia harus membayar segala kewajiban kredit ke pihak bank. Hanya saja, nama yang tertera pada semua dokumen dan catatan bank adalah tetap nama debitur pertama.

Bagi si penjual atau debitur pertama, risiko yang akan dihadapinya adalah bila si debitur baru tak bisa memenuhi tanggung jawabnya dalam pelunasan KP dengan baik, maka nama Andalah yang akan masuk dalam daftar hitam BI.  Itu karena semua dokumen dan catatan bank masih menggunakan nama Anda.

Risiko lain yang dihadapi pembeli adalah ia tak bisa melakukan take over ke orang lain lagi jika nanti ia tak bisa melakukan pelunasan. Jika pun ingin melakukan take over, ia tetap harus menghadirkan pihak pertama sebagai pemilik kredit asal.

Risiko lainnya adalah karena ini dilakukan di luar bank, risiko pembeli pertama kabur juga sangat besar. Jika hal ini terjadi, maka si pembeli dalam hal ini debitur baru akan kesulitan mengambil sertifikat rumah di bank dan balik nama setelah lunas.

Nah, sudah  mengerti yang dimaksud dengan take over KPR ini, kan? Ada cukup banyak risiko yang bisa timbul dalam kredit rumah mudah ini meskipun tujuan awalnya adalah untuk menghindari kredit macet dan rumah disita. Kalaupun harus melakukannya, ada baiknya lakukan take over pada orang yang benar-benar Anda kenal.